Ambliphigy: Top Predator in cave   Leave a comment

Mungkin banyak yang belum tahu sehingga bertanya apa itu ambliphigy. Hewan atau tumbuhan? Dapat dimaklumi karena hewan ini memang tidak umum dan sangat jarang ditemui kecuali jika teman-teman sering masuk gua. Suatu ketika di saat anda masuk gua, anda akan melihat suatu serangga dengan tiga pasang kaki, di depan terdapat penjepit panjang yang bergerigi (bukan capit), dan memiliki sungut yang sangat panjang (bukan sungut melainkan modifikasi alat gerak). Berwarna hitam atau hijau gelap (coklat dengan garis-garis apabila masih anakan). Ditemui dalam kondisi diam atau berlari menyamping dengan cepat atau jika beruntung akan mendapati hewan ini sedang memangsa serangga. Siapakah hewan ini?

Untuk mengetahui siapakah dia, silahkan saja baca di sumber lain mengenai ilmu pengetahuan atau biologi atau bisa hubungi Bapak Cahyo Rahmadi, seorang ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang sangat menguasai hewan ini. Di sini saya akan lebih menekankan pada keberadaannya di karst Gunungsewu.

Sebenarnya apabila jeli, spesies ini tidak hanya ditemukan di dalam gua, namun kadang di tumpukan batu, tumpukan seresah, dan tempat-tempat lainnya yang mungkin cukup terlindung dari sinar matahari. Sangat umum ditemukan di dalam gua dan luweng di Gunungkidul. Di dalam gua di Gunungsewu, spesies ini sebagian besar merupakan top predator karena tidak ada lagi yang memangsanya. Mangsanya berupa serangga seperti jangkrik gua (Raphidophoridae). Titik mata masih ada namun sudah tidak fungsional. Indera yang paling berperan adalah indera peraba di antenna atau sungutnya yang sangat panjang. Panjang antara kiri dan kanan pun berbeda (entah mengapa).

Di karst Gunungsewu terdapat dua jenis Amblipigy, yaitu Sarax sp. Dan Charon sp. Ciri pembedanya terdapat pada kaki paling depan yang telah terdiferensiasi menjadi penjepit. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai perbedaan diantara keduanya karena saya bukan ahlinya. Yang jelas keberadaan satwa ini di dalam gua sangat berperan sebagai pengendali populasi jangkrik gua dan serangga-serangga lainnya. Secara anthroposentris hal ini mungkin tidak terlalu penting karena tidak bermanfaat bagi manusia, namun di dalam ekosistem terutama ekosistem gua, spesies ini sangat penting keberadaannya.

Pernah suatu ketika di awal tahun 2004, di Gua Tlogo tidak ditemui Amblipigy dan populasi jangkrik gua sangat banyak. Hal ini dikhawatirkan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem gua yang notabene sangat peka terhadap perubahan. Namun beberapa bulan berikutnya populasi jangkrik gua tidak terlalu tinggi dan sudah ditemui amblipigy di entrance dan di dalam gua.  Akan tetapi beberapa gua tidak dijumpai adanya Amblipigy, namun ada juga gua yang cukup melimpah. Bahkan ada dua gua yang berdekatan namun satu terdapat jenis ini namun yang satunya tidak ada satu pun. Ada juga gua yang keberadaan spesies ini bersifat tidak tentu, kadang ditemukan namun kadang tidak ditemukan.

Amblipigy merupakan anggota arachnida yang masih jarang diteliti sehingga keberadaannya pun masih misterius. Bagaimana pola hidupnya? Bagaimana reproduksinya? Mengapa hanya berada di dalam gua atau di bawah batu? Bagaimana pola adaptasi dan proses evolusi atau proses spesiasinya hingga bisa muncul spesies dengan karakteristik yang unik seperti ini? Inilah pertanyaan-pertanyaan logis yang belum terjawab oleh saya. Ada yang bisa menjawabnya?

Posted February 11, 2011 by eddyguano in Fauna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: