Elang Ular Bido…Elang Teradaptif di Karst   Leave a comment

Ini bukanlah elang yang berekor ular atau berkepala ular. Yups…Ini adalah elang yang memangsa ular. Elang Ular Bido (Spilornis cheela) atau nama Inggrisnya Crested Serpent Eagle merupakan elang yang paling umum dijumpai di karst Gunungsewu. Menurut Mackinnon dalam bukunya ‘Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan’ mendeskripsikan elang ini sebagai elang yang berukuran sedang, sekitar 50 cm,berwarna gelap, sayap sangat lebar membulat, ekor pendek. Dewasa pada tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah coklat. Perut, sisi tubuh, dan lambung berbintik-bintik putih, terdapat garis abu-abu lebar di tengah garis-garis hitam pada ekor. Jambulnya pendek dan lebar, berwarna hitam dan putih. Mata (iris) kuning, paruh coklat abu-abu, kaki kuning. Ciri khasnya adalah kulit kuning tanpa bulu diantara mata dan paruh. Pada saat terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pada pinggir belakang sayap. Remajanya mirip dewasa namun lebih pucat dan lebih banyak warna putih pada bulu. Dalam observasi yang kami lakukan tidak sedetail itu, maka saya mengutip tulisan beliau.

Di dunia terdapat banyak sekali sub-spesies dari Elang Ular Bido, namun di Indonesia hanya terdapat tiga, yaitu Spilornis cheela bido yang terdapat di Jawa dan Bali, Spilornis cheela malayensis di Sumatera utara, dan Spilornis cheela pallidus dari Kalimantan. Perbedaannya, Spilornis cheela malayensis memiliki ujung bulu sekunder tidak putih, dan Spilornis cheela pallidus hidup di dataran rendah berukuran lebih kecil dan lebih coklat

Memiliki sebaran global di India, Cina Selatan dan Asia Tenggara. Untuk sebaran  localnya, elang ini terdapat di seluruh Sunda Besar dan mungkin merupakan Elang paling umum ditemui. Keberadaannya ditemui hingga ketinggian 1.900 mdpl pada saat kami melakukan pengamatan di lereng Gunung Merapi(api kita tidak akan membahas yang di sana). Keberadaannya di karst Gunungsewu terkonsentrasi di bagian selatan karst Gunungsewu dan dekat dengan daerah pantai. Di beberapa kawasan di utara juga menjadi daerah jelajahnya, namun sarangnya sebagian besar ditemui di formasi Baturagung yang memiliki batuan andesit yang terletak di sebelah utara kars Gunungsewu dan Plato Wonosari.

Kebiasaan sering terlihat terbang melingkar (soaring) di atas semak, tegalan, sawah. Menurut Mackinnon, antar pasangan saling memanggil, pada saat bercumbu pasangan akan memperlihatkan gerakan aerobatic yang indah namun tidak terlalu gesit. Sayangnya hingga kini kami tidak pernah menyaksikannya. Sering ditemui bertengger pada dahan besar yang teduh sambil mengamati tanah (apabila kita jeli). Dari hasil pengamatan yang pernah kami lakukan, pada hari biasa, elang ini akan mulai bersoaring sekitar pukul 8 – 10 pagi (cuaca cerah) dan pada cuaca mendung atau hujan, mereka akan menyesuaikan waktu terbang mereka dengan keberadaan sinar matahari. Hal ini karena sinar matahari ini berfungsi untuk menaikkan arus udara dari bawah yang berfungsi untuk mengangkat sayapnya yang dibentangkan. Sedangkan pada musim breeding, sekitar pukul 8, jantan akan mencari mangsa untuk betina dan setelah itu akan bersoaring bersama.

Elang ini memiliki sarang yang tetap untuk kawin kecuali apabila rusak atau pohonnya tumbang. Sarangnya terdiri atas ranting-ranting dahan pohon dan daun kering. Di sarang dan di bawah sarangnya sering ditemukan sisa mangsa yang berupa ular atau rangka ular. Sarang berukuran sangat lebar dan terletak di pohon tertinggi atau pohon yang terletak di tebing.

Pada saat terbang umumnya akan bersuara sangat rebut, melayang-layang di atas tegalan, mengeluarkan suara nyaring dan melengking “kiu-liu”, “Kwiiik-kwi”, atau “Ke-lii-lik” yang khas dengan tekanan pada dua nada terakhir. Menurut Mackinnon elang ini juga bersuara “kokokoko” yang lembut namun kami belum pernah mendengarnya. Hingga saat ini, observasi yang kami lakukan menemukan tujuh sarang Elang Ular Bido dan dalam kurun waktu dua tahun dua sarang telah hilang karena pohonnya tumbang dan satu sarang rusak. Selain itu, perburuan telur untuk dikonsumsi dan anakan untuk dipelihara atau dijual cukup memperihatinkan. Semakin jarang kita menyaksikan burung ini bersoaring tiap pagi dan mencerahkan haridengan lengkingan suaranya. Akankah suatu saat burung ini punah?

Posted February 11, 2011 by eddyguano in Burung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: