Karnivor Karst Gunungsewu   Leave a comment

Sebenarnya belum dapat dibuktikan secara pasti mengenai keberadaan karnivor di karst Gunungsewu. Keberadaannya seolah melebur bersama dengan kearifan local yang bersifat mistik. Bagaimana tidak apabila keluarga karnivor disebut dengan istilah ‘simbah’ atau ‘sing baurekso’. Aktivitas memangsanya pun identik dengan pembongkaran makan orang-orang yang mati atau lahir pada hari tertentu. Ditambah lagi dengan mitor adanya macan atau harimau jadi-jadian sebagai salah satu jalan irrasional memperoleh kekayaan harta atau sekedar memperoleh suatu ‘ngelmu’. Sering kita dapati makam orang yang baru meninggal dijaga oleh warga di karst Gunungsewu bagian selatan. Bahkan hingga memakai sound system besar seperti orang hajatan. Apakah benar macan atau harimau memang ada dan eksis di karst Gunungsewu? Hingga saat ini belum banyak ahli yang mencoba mengorek keberadaannya di karst Gunungsewu.

Kami menelisik keberadaan karnivor melalui warga sekitar yang merupakan pribumi asli dan dianggap  cukup mengenal daerahnya sendiri. Orang-orang ini dari kecil bermain di daerahnya ini hingga menghabiskan hari tuanya sebagai petani di daerahnya sendiri. Banyak sekali info yang diperoleh dari mereka. Tidak hanya warga pribumi, namun juga pemburu dapat menjadi sumber informasi dalam investigasi  ini. Bahkan paranormal dan juru kunci makam pun tidak lepas untuk menjadi sasaran sekaligus objek wawancara. Teknik yang digunakan dalam investigasi ini pun sedikit berbeda dengan teknik interview yang diajarkan di sekolah atau kuliah. Karena masyarakat desa cenderung tertutup terhadap orang-orang yang ‘baru’. Sehingga dalam pengumpulan data ini, kami cenderung bergabung dengan warga terlebih dahulu sebelum mengorek keterangan lebih lanjut. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama, namun data yang diperoleh pun cukup banyak dan dapat dianggap lebih ‘dalam’ karena warga akan bercerita lebih lepas sambil bercanda dengan teh hangat dan hidangan seadanya dari hasil bumi.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, diperoleh informasi bahwa di karst Gunungsewu terdapat macan tutul (Panthera pardus pardus) dan macan kumbang (Panthera pardus melas) yang merupakan satu spesies. Macan ini masih sering ditemui hingga saat ini, terutama di karst bagian selatan. Banyak warga yang telah melihatnya dengan pendeskripsian yang berbeda namun merujuk pada beberapa hal yang sama. Betapa mengherankan, banyak warga yang dapat mendeskripsikannya dengans angat jelas dan detail, terutama para pemburu. Hal ini meyakinkan kita bahwa macan tutul dan macan kumbang memang ada di karst Gunungsewu. Sayangnya hingga artikel ini tertulis kami belum dapat menjumpainya dan bukti yang ada seperti jejak dan kotoran juga masih bias dengan kucing hutan.

Spesies kedua ini yang akan mencengangkan dan beberapa orang mungkin sulit untuk mempercayainya. Menurut warga di karst Gunungsewu terdapat harimau jawa (Panthera tigris sondaica). Pada awalnya kami beranggapan bahwa deskripsi mengenai harimau jawa hanyalah versi ketakutan warga akan macan tutul sehingga dalam kondisi panic tidak dapat melihat dengan sempurna. Akan tetapi seiring dengan perkembangan investigasi, ternyata ada beberapa orang yang dapat mendeskripsikannya dengan sangat detail. Prosentase warga yang melihatnya pun lebih banyak daripada yang melihat macan tutul. So…??? Apa memang harimau jawa ada dan eksis di karst Gunungsewu? Dari informasi masyarakat, harimau jawa masih terlihat di tepian kota Wonosari sebelah selatan hingga tahun 1980-an dan warga di peisisr selatan pun masih sering bertemu hingga saat ini. Bahkan menurut mereka, terdapat pemburu harimau dari Jawa Tengah dan Jawa Barat yang beroperasi di tempat mereka. Hingga saat ini kami belum dapat menemukan bukti keberadaannya, namun bagaimana dengan kesaksian warga? Apakah harimau jawa benar-benar belum punah? Apabila memang terdapat di karst Gunungsewu, dan karst Gunungsewu merupakan salah satu habitatnya yang tersisa, apa yang perlu dilakukan untuk mengkonservasi kawasan ini?

Informasi warga sebenarnya tidak dapat dipandang sebelah mata. Memang banyak beberapa site di karst Gunungsewu yang sulit tersentuh oleh manusia karena topografinya. Beberapa tempat seperti ladang juga hanya ‘disentuh’ oleh manusia di saat musim tanam dan musim panen. Beberapa hutan keramat pun juga masih ada. Gua-gua yang belum dan tidak terjamah manusia juga masih sangat banyak. Banyak penuturan mengenai aktivitas harimau jawa yang bersua ke rumah warga untuk sekedar meminta minum pada saat kemarau panjang. Banyak warga yang berpapasan dengan ‘simbah’ di jalan setapak menuju ladang. Banyak ternak warga yang telah dimangsanya. Banyak penjaga makam yang merasa dijarah oleh ‘sang baurekso’ ini, banyak pemburu yang menyaksikan spesies ini bersantai di atas batuan atau becengkerama di mulut gua. Tapi tanpa bukti hal itu juga hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut yang kemudian melahirkan mitos-mitos dan akhirnya akan bias dengan cerita khayalan seperti dongeng apabila informan sudah tidak ada lagi. Namun pada kenyataannya saksi-saksi ini masih ada meski sebagian besar sudah sangat renta.

Spesies yang digambarkan warga selanjutnya ini akan lebih membingungkan lagi. Percaya atau tidak, daerah sekitar Gunung Batur di Tepus banyak warga yang telah menyaksikan adanya singa. Baik bepapasan di jalan setapak menuju ladang atau melihatnya sekedar beraktivitas di cempluk-cempluk (bukit-bukit kecil / conical hill). Bagaimana mungkin satwa Afrika ini Nampak di Jawa yang notabene bukan habitat sang singa. Terdapat beberapa hipotesis mengenai hal ini. Ada kemungkinan rasa takut menimbulkan sugesti yang berdampak pada pendeskripsian yang tidak nyata (sebagian besar informan ketakutan saat bertemu dan mendeskripsikannya sebagai hal ‘seperti yang di TV’), jadi ada kemungkinan yang dilihatnya adalah macan tutul atau harimau jawa. Ada kemungkinan merupakan pola adaptasi lanjutan dari harimau jawa atau macan tutul yang mengalami degradasi genetic sebagai akibat dari inbreeding sehingga keturunan yang diperoleh tanpa totol atau coretan hitam (albino) (ada pula warga yang dapat mendeskripsikannya dengan detail). Kemungkinan selanjutnya, memang ada singa di karst Gunungsewu entah terbawa kemudian lepas atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang membawa spesies ini masuk pulau Jawa.

Yang wajar dan umum adalah adanya kucing hutan (Felis bengalensis) atau yang disebut warga dengan nama ‘blacan’ atau ‘macan cecep’. Spesies ini sangat umum di karst Gunungsewu, bahkan selama observasi beberapa dari anggota kami sering menjumpainya bahkan menemukan sekumpulan anaknya di bawah pohon saat ditinggal induknya. Akan tetapi di beberapa tempat menyebutkan melihat ‘macan abang’. Nah spesies inilah yang belum dapat kami ketahui. Siapa ‘beliau’ sebenarnya? Mungkin sekian artikel yang dapat kami tulis. Semoga bermanfaat dan silahkan dikritisi.

Terima kasih dan salam lestari.

Posted February 11, 2011 by eddyguano in Fauna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: