Tumbuhan Karst…???   Leave a comment

Ketika ditanya ‘terus tumbuhan apa yang merupakan tumbuhan asli karst atau yang cocok ditanam di karst?’, belum tentu orang-orang akan tahu. Namun ketika saya ditanya mengenai hal itu, saya akan kembalikan dulu ke sifat karst sebelum menjawabnya.  Kita ketahui bersama bahwa karst didominasi oleh batuan yang mengandung banyak kalsium. Selain itu lapisan tanahnya tidak terlalu tebal serta kandungan airnya sedikit. Dalam hal ini, tentu tumbuhan yang cocok adalah tumbuhan yang tidak terlalu bersifat asam (meminimalisir pelarutan), tidak terlalu membebani tanah, serta mampu beradaptasi dengan kadar air tanah yang rendah. Tumbuhan apa ya itu?

Ketika ditanya lebih lanjut, maka saya akan menjawab bahwa tumbuhan tersebut adalah tumbuhan dari kelompok Moraceae terutama dari genus Ficus. Lha…??? Ficus itu apa? Lebih mudahnya mungkin kita sebut sebagai keluarga beringin (Ficus spp.). tapi tidak semua keluarga beringin berupa pohon. Ada yang berupa semak dan perdu. Lalu kenapa beringin? Bukannya ukurannya yang besar malah sangat membebani tanah? Kita lihat dulu sifat beringin dimana akarnya akan menghujam ke dalam celah-celah batuan. Dengan ini, ficus spp. Malah juga dapat berfungsi untuk menahan erosi dan abrasi. Akan tetapi hal ini juga menjadi kelemahan karena dengan sifatnya itu akan mempercepat pelapukan batuan secara fisik. Selain itu, sifatnya yang cukup tahan terhadap kondisi kering juga mendukungnya untuk bertahan di karst. Sebenarnya mungkin masih ada tumbuhan lain yang sesuai atau bahkan asli karst, namun dari hasil inventarisasi yang kami lakukan di karst gunungsewu diperoleh 58 jenis pohon besar dengan 16 diantaranya adalah ficus spp.

Foto disamping adalah foto sebuah pohon yang dililit oleh tiga spesies dari Ficus spp. Entah bagaimana dan entah berumur berapa, yang pasti pohon yang terdapat di karst Gunungsewu bagian tengah tersebut sudah cukup tua. Keberadaannya dilindungi oleh kearifan lokal masyarakat setempat.

Ketika bicara tentang beringin, beberapa orang pasti akan terbesit mengenai ‘pohon angker’ atau ‘mistik’. Saya sendiri juga belum mengetahui apakah terdapat hubungan antara pohon besar di karst yang sebagian ficus spp. Dengan metafisika. Untuk saat ini, saya hanya dapat mengambil hipotesis bahwa sifat mistik tersebut diangkat oleh masyarakat local tradisional untuk mengkonservasi tumbuhan tersebut. Banyak sekali tempat mistik yang berupa pohon yang memang tinggal satu-satunya atau pohon yang di bawahnya terdapat mata air. Ada kemungkinanmasyarakat telah berpikiran lebih maju bahkan melebihi orang-orang akademisi saat ini (hal ini telah terbukti). Mungkin ada yang punya jawaban lain?

Kembali ke Ficus spp., ada hal yang cukup mengganggu pikiran kami. Ketika melihat pohon besar namun tak ada satu pun seedlingnya (anakan/perkecambahan), kenapa hal itu bisa terjadi? Untuk Ficus spp. Yang berbunga periuk memang membutuhkan serangga khusus untuk menyerbukinya. Selain itu ada juga yang membutuhkan enzim pencernaan untu aktivasi perkecambahannya, sehingga butuh untuk dimakan burung dahulu sebelum dikeluarkan melalui kotoran dan berkecambah. Ada kemungkinan serangganya yang punah atau serangga dan burungnya sudah tidak ada lagi di habitatnya. Lalu bagaimana dengn pohon yang tinggal satu-satunya? Nah, mungkin inilah yang dapat kita lakukan, yaitu mengembangbiakkannya secara vegetative dengan cara stek (sebagian besar Ficus spp. Bisa distek). Inilah fungsi kita sebagai manusia untuk mencegah kepunahan, masalah selanjutnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa saja. Akan tetapi ada satu pertanyaan yang hingga kini belum saya peroleh jawabannya. Mengapa sebagian besar Ficus spp. tumbuh di celah-celah batuan?

Ketika berpikir secara kemanfaatan dalam sudut pandang manusia (Pragmatis anthroposentris), memang tak ada manfaatnya menanam pohon itu karena memang tak memiliki manfaat besar secara ekonomi. Mungkin sebagian besar orang akan berpikir lebih baik menanam jati, mahoni, sengon laut, dll yang lebih menjanjika secara ekonomi. Akan tetapi secara berkelanjutan, tumbuhan tersebut cukup berperan dalam kelangsungan hidup manusia. Sebaliknya, tumbuhan yang berkemanfaatan secara ekonomi sebagian besar bersifat destruktif terhadap lingkungan karena sebagian besar adalah tumbuhan introduksi (didatangkan dari luar). Mulai dari hasil metabolit sekunder yang meracuni tanah, mengambil unsure hara dan air berlebih, seresahnya terlalu asam, sifat seresah yang sulit diurai, dan lain-lain.  Sehingga untuk ke depannya cukup mengkhawatirkan. Lalu bagaimana dengan anak cucu kita nanti ya? Lalu bagaimana solusinya? Ya lebih baik berbagi secara berimbang dalam kedua hal, antara ekosentris dan anthroposentris. Memang pertumbuhan tumbuhan ekonomis akan sedikit mengalami perlambatan atau lahan yang ada terpaksa dibagi sehingga hasil ekonominya hanya setengah dari biasanya, namun tidak inginkah kita sedikit berkorban demi anak cucu kita?

Posted February 11, 2011 by eddyguano in Flora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: