Amphidromus sp.: Keong yang bukan Siput…   2 comments

Melihat sekilas gambar dari keong ini pasti sebagian besar orang berpikir “Itu bekicot…” Padahal pada kenyataannya sangt berbeda. Achatina fulica yang lebih kita kenal dengan bekicot merupakan keong tanah sedangkan Amphidromus sp. (gambar) adalah keong pohon. Apabila dilihat lebih teliti, perbedaan paling menonjol terletak pada otot perutnya (yang digunakan untuk berjalan) dimana keong ini berwarna kuning sedangkan bekicot berwarna coklat. Apabila dilihat lebih teliti lagi, pada tepi aperturenya (tepi lubang), pada bekicot tidak ada lekukan, sedangkan keong ini tepinya melekuk keluar. Apabila kita ada waktu dan mengamatinya lebih lanjut tiap aktivitasnya (berapa lama ya…??? Kayak orang kurang kerjaan aja), maka kita akan sangat jarang sekali menjumpainya berada di tanah. Tidak seperti bekicot yang sering kita jumpai di tanah. Perbedaan lain juga terletak pada kebiasaannya saat bertelur. keong ini akan bertelur di daun, sedangkan bekicot di tanah.

Menurut Ibu Naning, seorang ahli Mollusca dari LIPI, Jenis moluska ini masuk dalam genus Amphidromus yang lebih dikenal dengan keong pohon. Hal ini karena anggota Genus ini sebagian besar hidup di atas pohon dan menempel pada dedaunan. Menurut beliau, keong ini merupakan individu dari spesies Amphidromus peversus. Bibir aperture yang melekuk keluar adalah ciri khas dari famili Camaenidae dan Amphidromus adalah anggota famili ini. Inilah cirri utama yang membedakan antara Amphidromus sp. dengan bekicot. Menurut beliau juga, ke-khas-annya adalah corak dan warna cangkangnya yang kuning atau putih polos atau kuning dengan berkas pita axial berwarna coklat pada keseluruhan seluk, atau pada beberapa seluk saja atau  hanya pada daerah di sekitar aperture. Jenis ini merupakan jenis umum dengan daerah distribusi meliputi Jawa, Sulawesi, Bali, Madura , Kalimantan.

Untuk yang terdapat di karst Gunungsewu, kebanyakan memiliki corak cangkang mirip dengan bekicot (seperti pada gambar). Spesies ini hanya tersebar di karst yang terdapat di Karangmojo, Ponjong, dan Semin. Untuk sementara waktu kami menyimpulkan bahwa, alasan spesies ini hanya terdistribusi di tiga kawasan tersebut karena pengaruh kelembaban. Cukup sulit menemukan spesies ini saat ini, tidak seperti sebelum tahun 1998.

Hal yang paling menarik untuk dikaji mengenai spesies ini adalah proses timbulnya warna kuning pada otot perutnya. Tiap tempat menunjukkan perbedaan tingkat pewarnaan warna kuning pada otot perutnya (kuning sangat pucat – kuning terang). Selain itu, corak warna coklat pada cangkangnya yang berbeda-beda tiap individu. Apabila ada kemiripan, pasti terdapat perbedaan. Ini merupakan hal yang sangat menarik terutama mengenai habitatnya mengingat keberadaannya yang semakin jarang ditemui. Mari kita kaji bersama sebelum kepunahan menjemputnya…

Bu Naning menganjurkan membaca literature yang membahas jenis ini, antara lain:

Dharma, B.1992. Siput dan Kerang Indonesia, Indonesian Shells II. Weisbaden : Verlag Christa Hemmen. Hal 115.

Laidlaw, S & A.Solem.1961. The Land Snail Genus Amphidromus : A Synoptic Catalogue. Fieldiana : Zoologi Vol 41:num 4.

Posted February 12, 2011 by eddyguano in Fauna

2 responses to “Amphidromus sp.: Keong yang bukan Siput…

Subscribe to comments with RSS.

  1. di tempat tinggal saya masih ada beberapa keong pohon, apakah ini bisa dikonsumsi?

    • Untuk konsumsi harus diteliti lebih lanjut mengingat satwa jenis Mollusca ada yang sebagian beracun. Namun secara umum, keong dengan warna yang mencolok seperti kuning, orange, atau merah biasanya beracun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: