Biawak: Reptil Terbesar…   Leave a comment

Judul di atas tergantung konteksnya terutama lokasi…jika di dunia jelas salah karena masih ada buaya…di Indonesia pun juga kurang tepat karena masih ada buaya dan bahkan masih ada komodo. KOnteks kalimat di atas tepat apabila titik-titik di belakangnya diikuti dengan kalimat ‘di Karst Gunungsewu’. Memang benar bahwa biawak merupakan reptile terbesar di wilayah ini selama tidak ada yangmelepas komodo atau buaya di karst ini. Reptile dengan nama ilmiah Varanus salvator ini memiliki ukuran yang cukup besar (maaf jika secara kuantitatif kami belum dapat menyajikan datanya…kami belum pernah melakukan pengukuran).

Di karst Gunungsewu, jenis ini dapat ditemui di mana saja, namun perjumpaan tertinggi terdapat di karst Gunungsewu bagian utara. Sebagian besar kami menemukan dalam jumlah banyak di tepi sungai (perjumpaan di tempat lain umumnya hanya satu individu). Di karst, jenis ini bersifat omnivorous atau pemakan segalanya (entah di lokasi lain). Hingga saat ini, hasil dari pengamatan kami menunjukkan bahwa tidak ada variasi atau perbedaan antara biawak di karst dengan yang di luar karst. ukuran terbesar yang pernah kami jumpai di karst memang sangat besar namun ukuran yang sama pernah juga ditemui di Baluran, Jawa Timur. Akan tetapi jika dibandingkan dengan biawak yang sering kami jumpai di dalam hutan, di karst Gunungsewu memiliki corak warna yang lebih gelap seperti yang pernah kami temui di Jawa Timur (Habitat bukan hutan). Mungkin hal ini diakibatkan karena pengaruh pemaparan sinar matahari.

Sayangnya, kondisi saat ini sangat memperihatinkan…sejak tahun 2004, jenis ini lebih sulit ditemui daripada tahun-tahun sebelumnya. Setelah investigasi dengan masyarakat, baru kami ketahui bahwa ternyata ada ‘mitos’ mengenai satwa ini sehingga satwa ini sering diburu untuk dijadikan makanan atau bagiannya diawetkan. Akan tetapi sebenarnya ada ‘mitos’ juga yang mengungkapkan bahwa jenis ini harus dilestarikan (meski secara tersirat). Mitos ini tidak hanya satu, namun cukup banyak…bahkan tiap dareah memiliki mitos yang berbeda-beda meski dalam satuwilayah (wilayah karst Gunungsewu). Akan tetapi mitos yang berkaitan dengan pelestarian saat ini tidak lagi diperhatikan dan mulai hilang…tidak seperti mitos ‘pemanfaatan’ yang malah semakin gencar. Dari kearifan local yang ada, apabila diserap secara utuh, sangat mengutamakan keseimbangan (sayangnya tidak lagi diperhatikan).

Apabila hal ini tetap berlanjut, sangat dikhawatirkan biawak akan semakin sulit ditemui. Bukan masalah sulitnya, namun yang paling dikhawatirkan adalah munculnya ketidakseimbangan kondisi alam yang secara tidak langsung akan berakibat buruk pada lingkungan. Memang jenis ini dalam pandangan manusia tidak ‘bermanfaat’ namun mungkin sangat ‘bermanfaat’ bagi lingkungan. Akankah suatu saat biawak juga akan dikonservasi seperti komodo? Semoga tidak…

Posted February 18, 2011 by eddyguano in Fauna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: