Cekakak Sungai…Raja udang yang Merajai   2 comments

Cekakak sungai (Halcyon chloris yang dulunya Todirhamphus chloris) merupakan jenis raja udang yang tersebar di seluruh karst Gunungsewu. Burung yang berparuh besar dan berwarna putih-biru ini lebih suka memangsa ikan. Orang lokal menyebut buurng ini ‘burung tengkek’ sesuai dengan suaranya yang didefinisikan masyarakat ‘kek-kek-kek-kek’. Yah…sangat jelas terdengan apabila burung ini terbang sambil bersuara. Mackinnon mendefinisikan suara ini ‘kak-kak-kak-kak’. Memang berbeda dengan warga, namun itu tidak jadi masalah karena suaranya ya seperti itu.

Di karst Gunungsewu, jenis ini tidak sebanyak cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) dan sangat sulit dibedakan dengan cekakak suci (Halcyon sanctus) kecuali dari warna cekakak suci yang putihnya lebih ‘kotor’ (tiga kali dijumpai di karst Gunungsewu). Cekakak jawa lebih sering dijumpai daripada cekakak suci. Cekakak jawa dapat ditemukan di seluruh area di karst Gunungsewu sedangkan cekakak suci lebih jarang dan titik-titik pertemuannya pun juga lebih sedikit. Kita akan menjumpai burung ini di beberapa titik terutama di tepi sungai, namun yang paling banyak terdapat di tepi pantai dan tepi sungai Oya. Untuk di karst inti, burung ini lebih jarang ditemui karena di karst inti tidak ada sungai permukaan. Namun cekakak jawa yang hanya dapat ditemukan di jawa (endemic jawa) malah lebih sering dijumpai…aneh… cekakak sungai lebih sering kami temui dalam kondisi berkelompok atau berpasangan daripada cekakak jawa yang umumnya kami temui dalam kondisi sendiri.

Burung ini memiliki sarang berupa lubang di tanah atau lubang di batuan (lubang batu kapur yang cukup banyak dimanfaatkan oleh burung ini). Burung ini tidak hanya membuat satu lubang saja untuk sarang, namun beberapa lubang lain yang dimanfaatkan untuk kamuflase. Namun jangan salah, lubang lainnya kadang dihuni oleh tikus bahkan kami pernah menjumpai ular di salah satu lubang sarangnya yang tidak dipakai (untuk kamuflase). Jadi bagi para pengamat burung, hati-hati dalam mencari sarang cekakak. Burung ini juga memanfaatkan batuan karst yang berlubang-lubang. Umumnya mereka lebih sering bersarang di batuan yang memiliki banyak lubang dan mempergunakan salah satu lubang saja untuk bersarang. Sarang yang berupa lubang tanah umumnya ditemui di tepi sungai sedangkan yang berupa lubang batuan umumnya di sekitar pantai.

Dari pengamatan sementara, kami merasa bahwa keberadaan cekakak sungai kadang bergantian dengan keberadaan cekakak jawa. Apabila cekakak sungai banyak, cekakak jawa sedikit, dan sebaliknya (semoga hanya perasaan kami saja). Yang pasti, burung ini sangat menarik dan sayang untuk tidak menyempatkan diri menikmati suara dan keindahan bulunya. Semoga keberadaan burung ini cukup lestari karena di karst Gunungsewu keberadaan burung ini menambah keasrian daerah yang dianggap kering ini.

Posted May 25, 2011 by eddyguano in Burung

2 responses to “Cekakak Sungai…Raja udang yang Merajai

Subscribe to comments with RSS.

  1. thank’s share infonya… sangat menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: