Publikasi   Leave a comment

Karst Gunungsewu

Sebagai Ekosistem Satwa

Unik,  Langka, dan Dilindungi

 

Disajikan dalam

Workshop Karst,

LIPI, BKSDA Yogyakarta

Abstrak

Indonesia disebut sebagai Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Megadiversity Country). Hal tersebut didukung dengan kondisi geografis dan geologis yang sangat beragam di Indonesia. salah satu fenomena geomorfologis yang menarik adalah karst. karst tidak hanya memiliki ekosistem permukaan (eksokarst), namun juga ekosistem bawah tanah (endokart) seperti gua dan system sungai bawah tanah. karst Gunungsewu merupakan karst terbesar di Indonesia. Ekosistem Karst Gunungsewu memiliki karakteristik yang unik sehingga berpengaruh pada organisme yang hidup di dalamnya. Dari hasil observasi yang kami lakukan, di dalam Karst Gunungsewu terdapat beberapa satwa yang unik dan langka. Berdasarkan hal tersebut, maka kami tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dengan melakukan beberapa riset observatif dibeberapa lokasi yang menarik. Hal ini dilakukan karena masih minimnya data penelitian mengenai biodiversitas di Karst Gunungsewu. Penelitian dan Inventarisasi kami laksanakan sejak tahun 2006. Dalam penelitian ini digunakan metode observasi langsung (Inventarisasi dan eksplorasi). Dari hasil observasi, diperoleh beberapa jenis satwa yang unik dan langka terutama dari kelompok hewan menyusui (Mammalia), Kelompok burung (Aves), organism penghuni gua serta organisme penghuni kawasan pesisir (Zona pasang surut/neritik). Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem Karst Gunungsewu perlu dilestarikan dan dilindungi. Kebutuhan tersebut cukup mendesak karena laju kerusakan alam di Karst Gunungsewu cukup cepat. Berdasarkan kesimpulan yang ada menunjukkan bahwa konservasi karst sangat dibutuhkan demi kelestarian plasma nutfah di Indonesia dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan langkah taktis dan strategis dalam mengelola kekayaan alam Karst Gunungsewu.

Kata Kunci: fauna, flora, endokarst, eksokarst

 

Diversity of Carnivor in Gunungsewu Karst Area,

Gunungkidul Sub-district

 

Dikirimkan dalam

Seminar Internasional ICBS

Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta

 

Abstract

Carnivore is the member of Mammals. It is the top predator of all ecosystems. Generally, their existences are depending on prey abundance. The story from locality and the existence of prey in Gunungsewu are interesting and need to be followed up. It is interesting because it is known that karst area have high temperature and low moisture so that it is very hot and dry. The data of carnivore is very little, so we interest to collect the data of carnivore in Karst Gunungsewu. In collecting the data, we use interview and direct observation method. From interview and observation, we find some evidence of the existence of Asian Wild Dog (Cuon Sp.), Wild Cat (Felis bengalensis), and Leopard (Panthera pardus L.). From the results, we can conclude that conservation in Karst of Gunungsewu is badly needed. It must be done soon because Leopard becomes extinct. We can use local wisdom to conserve it because it has proven in making a good interaction between human and Carnivor in their habitat.

Keyword: Dog, Cat, Leopard, cave

 

 

Keanekaragaman Rumput Laut di Zona Pasang Surut,

Pesisir Selatan Karst Gunungsewu,

Gunungkidul, Yogyakarta

Dkirimkan dalam

Seminar Nasional Tahunan VIII, Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan

Yogyakarta

Abstrak

 

Indonesia merupakan Negara yang disebut sebagai Megadiversity Country. Sebutan ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Hal tersebut didukung oleh keanekaragaman ekosistem yang terdapat di Indonesia. salah satu ekosistem yang unik adalah karst. karst Gunungsewu merupakan kawasan karst terbesar di Indonesia dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Interaksi antara karst dengan Samudera membentuk suatu bentang alam pantai yang khas dan menarik. Selain karena potensinya sebagai asset wisata, pantai karst juga menyimpan kekayaan sumber daya hayati seperti rumput laut yang melimpah karena keunikan kawasan pesisir ini. Penelitian ini menggunakan metode jelajah dan observasi langsung. Dari sepuluh pantai, diperoleh 19 jenis rumput laut. Keanekaragaman terbesar terdapat di pantai Wediombo dan Krakal. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa keanekaragaman rumput laut di zona pasang surut yang terdapat di pesisir selatan karst Gunungsewu cukup tinggi. Perlu suatu usaha untuk melestarikan rumput laut karena pengambilan rumput laut mengalami peningkatan. Dikhawatirkan suatu saat nanti beberapa jenis rumput laut di zona pasang surut akan mengalami kepunahan.

Kata Kunci: Alga, Pantai, neritik, biodiversitas, kelautan

 

Keanekaragaman Burung di Desa Purwodadi,

Tepus, Gunungkidul, Yogyakarta

Dipresentasikan dalam

Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA

 Universitas Negeri Yogyakarta, 2011

Abstrak

Indonesia disebut sebagai Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi (Megadiversity Country). Burung adalah salah satu satwa yang memiliki jumlah spesies yang cukup besar di Indonesia. desa purwodadi merupakan desa yang terdapat di tepi pantai. Selain itu desa ini juga terdapat di perbatasan antara Karst Gunungsewu yang berbatu kapur dengan formasi Gunung Batur yang berbatu andesit. Posisi dan kondisi lingkungan desa Purwodadi membuat kami berhipotesis bahwa di kawasan ini terdapat banyak jenis burung karena memiliki beberapa tipe habitat. Penelitian ini merupakan bagian dari Siung Eksploration 2010 yang dilaksanakan oleh Pemuda Pecinta Alam Gunungkidul. Inventarisasi burung yang dilakukan menggunakan metode jelajah dan pengamatan langsung. Dari hasil observasi, diperoleh 73 jenis burung. Hal ini menunjukkan bahwa Desa Purwodadimemiliki kekayaan jenis burung yang cukup tinggi. Usaha untuk melestarikan burung di kawasan tersebut perlu dilakukan. Selain karena maraknya perburuan burung dan perdagangan burung, beberapa jenis burung yang menarik seperti Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Serak Jawa (Tyto alba), Betet Biasa (Psittacul alexandrii), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Kuntul Karang (Egretta sacra) dan beberapa burung kecil bersarang di desa tersebut.

Kata Kunci: Avifauna, Karst, pantai, gunung api purba

 

Biodiversity of Bats (Chiroptera) in Gunungsewu Karst Area,

Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

 

Dipresentasikan dalam

Seminar Internasional Second International South East-Asian Bat Conference

 SEABCRU & LIPI, Bogor

Abstract

Indonesia is a beautiful archipelago country. It has many habitat types and ecosystems. The most interesting area is karst. By its special characteristics like high concentration of calcium (Ca), makes karst area has a specific and uniquely ecosystem. Gunungsewu is the largest karst area in Indonesia. It has two kinds of ecosystems, those are surface ecosystem of karst (eksokarst) and underground ecosystem (Endokarst). We can find many caves in karst. Over there, we can find lots of bats that become the consideration for the area to be interested to study that is located in Gunungsewu karst area in Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia. In this study, we use observation and direct sampling methods. From the temporally result (research still on progress), it is known that in Gunungsewu karst area live 28 species of bats, those are 23 species of Microchiropteras and 5 species of Megachiropteras. We find bats not only in cave, but also in the ground holes that use by civilians to get water, forest, and garden. In some cases, we find it in the roof of house. From the results, we can conclude that conservation in Karst of Gunungsewu is badly needed. It must be done soon because in karst we can find lots of species of bats.

Keyword: mammalian, observation, cave, endokarst

 

The Distribution of Leopard (Panthera pardus L.) in Gunungsewu Karst area,

Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

 

Dikirimkan dalam

Seminar Internasional, ATBC

Tanzania,Afrika

Abstract

Indonesia is a beautiful archipelago country. It has many habitat type and ecosystem. The most interesting area is karst. By its special characteristics like high concentration of calcium (Ca), makes karst area has a specific and uniquely ecosystem. Gunungsewu is the largest karst area in Indonesia. The surface ecosystem of karst (eksokarst) in Indonesia is very dry, however we can find Leopard (Panthera pardus L), that is why we are interested to study about it. In this study, we use observation and interview method. From the temporally result (research still on progress), we know that in Gunungsewu karst area live two sub-species of Leopards, those are Spotted Leopard (Panthera pardus pardus) and Javanese Black Leopard (Panthera pardus melas) with deer (Muntiacus muntjak), pig (Sus Scrofa), porcupine (Hystrix javanica), squirrel (Caloscurus notatus), Mongoose (Paradoxurus hermaphroditus), and other small mammals and some birds as their prey. In some cases, we find Leopard eats the dead human body but they rarely eat cattle although it takes in the middle of the farms. The habitat of Leopard was fragmented. Now they only life in southern part of karst Gunungsewu and their habitat degrade slowly from year to year. From the results, we can conclude that conservation in Karst of Gunungsewu is badly needed. It must be done soon because Leopard becomes extinct. We can use local wisdom to conserve it because it has proven can make a good interaction between human and Leopards in their habitat.

Keyword: predator, tropical karst

 

Jenis_jenis Tumbuhan yang Dikonservasi Kearifan Lokal

di Karst Gunungsewu, Kabupaten Gunungkidul

 

Dikirimkan dalam

Seminar Nasional Ulang Tahun ke 59 Botany

LIPI, Bogor

 

Abstrak

 

Kawasan karst terutama karst Gunungsewu merupakan kawasan yang sangat menarik dari geomorfologi hingga keanekaragaman hayatinya. Akan tetapi keberadaan keunikan karst saat ini berada dalam kondisi yang terancam oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia yang cukup mengancam antara lain penambangan kapur, pembangunan pemukiman, pembangunan fasilitas masyarakat, perluasan lahan pertanian, eksplorasi berlebihan, dan lain-lain. Saat ini tumbuhan asli hanya dapat ditemui di kawasan yang dianggap sakral sehingga benteng terakhir konservasi tumbuhan di kawasan karst adalah kearifan lokal. Berdasarkan hal tersebut, maka kami tertarik untuk mendata jenis-jenis tumbuhan yang di’sakral’kan oleh para warga di karst Gunungsewu. Pendataan ini kami laksanakan sebagai salah satu langkah usaha pelestarian hutan karst yang saat ini hampir punah. Metode yang kami lakukan adalah metode observasi langsung. 67% dari luas karst Gunungsewu telah diobservasi. Dari hasil observasi, diperoleh 212 lokasi dengan 58 jenis tumbuhan berupa pohon.  Dari hasil tersebut, diketahui bahwa kearifan lokal melindungi tumbuhan tersebut karena beberapa hal, antara lain untuk mengkonservasi jenis tumbuhan, mengkonservasi satwa yang hidup di dan dari tumbuhan tersebut, mengkonservasi mata air, dan mengkonservasi budaya yang diwakili oleh tumbuhan tersebut. Sayangnya, sebagian besar orang awam menyalahartikannya dan saat ini tidak ada kepedulian generasi muda dengan keberadaan situs-situs tersebut.

Kata kunci: karst, Kearifan lokal, ficus, etnobotani

 

 

Konservasi Kawasan Karst dengan Pendekatan Masyarakat di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul

Dipresentasikan Dalam IndonesianYouth Mini Conferences

Sampoerna School of Education

22 Januari 2011

Abstrak

Kawasan karst terutama karst Gunungsewu merupakan kawasan yang sangat menarik dari geomorfologi hingga keanekaragaman hayatinya. Akan tetapi keberadaan keunikan karst saat ini berada dalam kondisi yang terancam oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia yang cukup mengancam antara lain penambangan kapur dan fosfat, pembangunan pemukiman, pembangunan fasilitas masyarakat, perluasan lahan pertanian, eksplorasi berlebihan, dan lain-lain. Saat ini tumbuhan asli hanya dapat ditemui di kawasan yang dianggal sakral sehingga benteng terakhir konservasi tumbuhan di kawasan karst adalah kearifan lokal. Berdasarkan hal tersebut, maka kami selaku pemuda pemudi daerah melakukan beberapa tindakan yang merupakan upaya pelestarian ekosistem karst. Selain sosialisasi kepada siswa sekolah menengah atas melalui seminar dan pembentukan kelompok belajat, salah satu langkah yang kami lakukan adalah pendampingan masyarakat terutama kelompok tani di desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Langkah yang kami lakukan adalah pendampingan petani dengan pemanfaatan aplikasi teknologi sederhana seperti pembuatan pupuk organik. Dari pendekatan emosional yang dilaksanakan, saat ini kami bersama warga telah bersama-sama berusaha membangun miniatur hutan karst sebagai salah satu langkah pelestarian hutan karst yang saat ini hampir punah.

Keywords: Kearifan lokal, karst, Gunungsewu, Konservasi, social

 

 

Study of Biodiversity in Gunungsewu Karst Area Kabupaten Gunungkidul

Dipresentasikan Dalam Seminar Internasional Asian Trans-Disciplinary Karst Conference2011

Faculty of Geography, Gajah Mada University

7 – 10 Januari 2011

Abstract

Indonesia is a beautiful archipelago country. It has some habitat types and ecosystems where the most interesting area is karst. By its special characteristics, karst area has specific and unique ecosystem. Here, organism is not only life in surface area (eksokarst) but also in underground area (endokarst). Gunungsewu is the largest karst area in Indonesia that becomes our consideration to study biodiversity there. In doing the study, we use observation and interview method. In temporally result (research still on progress), we get more than 200 species of bird, 21 species of mammal, 17 cave species, and 38 species of tree (unintroduce). From that result, we can conclude that conservation in Karst of Gunungsewu is needed. It must be done soon because some tree species will be extinct. Besides, Gunungsewu karst is a habitat for Javan Leopard (Panthera pardus melas), Crested Serpent Eagle (Spilornis cheela), Barn Owl (Tyto alba), Java Sparrow (Lonchura oryzivora), and many more. Here, we can use local wisdom to do the conservation. It is used to make survive some endangered tree species.

Keyword: bird, cave, ficus, carnivore, mammal

 

 

Karakter Habitat Ligosoma sp. di Kawasan Karst Gunungsewu,

Kabupaten Gunungkidul

Disajikan Dalam Seminar Nasional Herpetologi Indonesia 2010

Fakultas Biologi, Universitas Indonesia

7 Januari 2011

(Tidak dipresentasikan/tidak hadir)

Abstrak

 

Ligosoma sp. merupakan salah satu anggota kadal yang memiliki karakteristik morfologi yang khas. Secara umum, Ligosoma sp. tersebar di banyak kawasan dengan habitat yang bervariasi. Akan tetapi kadal ini cenderung hidup di habitat dengan suhu yang tidak terlalu tinggi dan dengan kelembaban yang tinggi. Penemuan spesies ini di Kawasan Karst yang bersifat kering dan panas merupakan penemuan yang cukup menarik. Data mengenai Ligosoma sp. masih sangat sedikit terutama mengenai habitatnya, sehingga cukup menarik untuk meneliti mengenai habitat Ligosoma sp. di Kawasan Karst Gunungsewu. Metode yang digunakan adalah observasi langsung. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa habitat Ligosoma sp. di Kawasan Karst Gunungsewu berada di kawasan yang lebih lembab dari kawasan sekitarnya. Dari hasil tersebut juga dapat disimpulkan bahwa kondisi ini sangat perlu diperhatikan mengingat perjumpaan spesies ini di Kawasan Karst masih sangat jarang dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai keberadaan Ligosoma sp. di Kawasan Karst Gunungsewu.

Kata Kunci: Kadal, Mata air, gua, selokan

 

 

Keanekaragaman Biota Gua di Ponjong, Gunungkidul

Disajikan Dalam Seminar Manajemen dan Konservasi Kawasan Karst Ponjong

Fakultas Geografi, Universitas Negeri Yogyakarta

23 Oktober 2010

Abstrak

(…tidak tersedia…)

 

Keanekaragaman Ikan di Gua Gremeng dan Gua Gilap,

Ponjong, Gunungkidul

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Ikan VI dan Kongres Iktiologi Indonesia III

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

8 – 9 Juni 2010

Abstrak

Gua merupakan bentukan khas di karst. Gua dapat membentuk ekosistem bawah tanah (endokarst) dengan karakteristik khusus dan spesifik. Gua Gremeng dan Gua Gilap adalah gua kapur yang terletak di kawasan yang sama akan tetapi memiliki karakteristik yang berbeda. Aliran utama sungai bawah tanah di Gua Gremeng berasal dari aliran permukaan sedangkan Gua Gilap merupakan system sungai bawah tanah. Kondisi tersebut memberikan daya tarik tersendiri untuk mengkaji keanekaragaman ikan di dalam kedua gua tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei, pada saat musim hujan dengan curah hujan sedang. Penelitian ini menggunakan metode jelajah. Sampling mempergunakan elektrofishing. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di Gua Gremeng terdapat enam jenis ikan, yaitu Puntius binotatus, Poecilia reticulata, Clarias sp., Channa gachua, Nemacheillus sp. dan Pangasius sp.. Sedangkan Gua Gilap memiliki tiga jenis ikan, yaitu Puntius binotatus, Poecilia reticulata, dan Nemacheillus sp..

Kata kunci: karst, ikan, gua, Gunungsewu

 

Habitat Macan Tutul (Panthera pardus)

di Lereng Selatan Gunung Merapi dan Karst Gunungsewu

Disajikan Dalam Seminar Nasional Ilmu Pengetahuan

Universitas Negeri Yogyakarta

(Tidak Dipresentasikan/ Tidak Hadir)

Abstrak

Macan tutul (Panthera pardus L.) merupakan salah satu hewan mammal karnivor yang hampir punah. Macan tutul adalah kucing besar nocturnal paling adaptif sehingga dapat hidup di berbagai tipe habitat. Data mengenai macan tutul dan habitatnya masih sangat sedikit sehingga cukup menarik untuk meneliti habitat macan tutul di lereng selatan Gunung Merapi dan Kawasan Karst Gunungsewu bagian barat. Kedua kawasan memiliki karalteristik yang khas dan berbeda sifat antar keduanya namun sama-sama dihuni oleh macan tutul. Metode yang digunakan adalah wawancara, eksplorasi, dan pemanfaatan citra satelit. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keberadaan media kamuflase adalah faktor yang paling berpengaruh bagi suatu kawasan menjadi habitat macan tutul. Keberadaan rongga tanah dan gua serta mata air ikut menentukannya. Migrasi macan tutul sangat ditentukan oleh keberadaan mangsa. Faktor pembatas yang nampak jelas adalah penggunaan lahan dan aktivitas manusia. Perlu usaha nyata untuk menyelamatkan macan tutul dari kepunahan

Kata Kunci: Macan tutul, Karnivora, Taman Nasional, Merapi, Karst, Gunungsewu

 

Publikasi Lainnya:

  • Analisis Mangsa Macan Tutul (Panthera pardus) di Lereng Selatan Gunung Merapi

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Taksonomi Fauna Indonesia III dan Kongres MTFI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 10 – 11 November 2009

  • Kondisi Habitat Macan Tutul (Panthera pardus) di Lereng Selatan Gunung Merapi

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Peran Biosistematika dalam Pengelolaan Sumber Daya Hayati Indonesia, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, 12 Desember 2009

  • KeanekaragamanKelelawar (Chiroptera) di Karst Menoreh

Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional ‘Indonesian Scientific Karst Forum #1’, Fakultas Geografi, Universitas Gajah Mada, 19 – 20 Agustus 2008

  • Habitat Macan Tutul (Panthera pardus L) di Lereng Selatan Gunung Merapi Pra dan Pasca Erupsi 2010.

Dikirimkan Dalam Seminar Nasional Biologi, FMIPA UNY

 

Posted February 11, 2011 by eddyguano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: